Rak Buku | Daftar seri | Simpan ke PDF

Sirah Nabawiyah oleh Kumpulan posting WAG dan berbagai sumber

Seri 51

Tindakan Bengis Abu Lahab

Sepeninggal Abu Thalib, Abu Lahab terpilih sebagai ketua Bani Hasyim. Segera setelah ia terpilih, Abu Lahab menyatakan melepas perlindungan terhadap diri Rasulullah SAW dengan memberikan pengumuman secara terbuka di Pasar Ukazh dan di Ka’bah. Ini adalah tindakan yang amat kejam, sampai Rasulullah SAW sempat minta perlindungan dari keluarga selain Bani Hasyim.

Bani Hasyim adalah satu di antara sekian banyak kabilah. Pemimpin sebuah kabilah dipilih karena bijak, berani, dan tegas. Pemimpin kabilah menduduki kedudukan terhormat. Pemimpin kabilah biasanya dipilih setelah berusia 40 tahun. Dalam pertempuran, kaum muda berjuang di garis depan melindungi pemimpin kabilah dan sesepuh di garis belakang.

Cara Rasulullah SAW Berdakwah

Ada 6 cara yang dilakukan Rasulullah SAW untuk berdakwah:
1. Mengumpulkan orang.
2. Mendatangi tempat-tempat pertemuan dan keramaian.
3. Mendatangi kota-kota lain.
4. Menugasi setiap muslim untuk berdakwah.
5. Menugasi muslim pilihan untuk mengajar.
6. Mengirimkan surat dan utusan kepada para raja dan pemimpin.

Tha’if

Rasulullah SAW berdakwah ke Tha’if pada tahun 10 kenabian (akhir Mei 619). Tha’if terletak 100 kilometer sebelah Tenggara Mekah. Tha’if adalah kota pegunungan dengan ketinggian hampir 2.000 meter di atas permukaan laut. Tha’if adalah kota dagang dengan hasil bumi dan perkebunan buah seperti anggur.

Rasulullah SAW mencoba mengalihkan dakwah langsung keluar Kota Mekah. Bersama Zaid bin Haritsah, Rasulullah SAW pergi ke kota Tha’if. Tiba di kota itu, Rasulullah SAW menemui tiga orang pembesar kota dan menawarkan Islam kepada mereka. Apa tanggapan mereka?

“Bahkan akan kusobek-sobek selubung Ka’bah untuk membuktikan bahwa demikian tidak percayanya aku padamu!” ujar seseorang.

Mendengar temannya bicara seperti itu, yang lain tersenyum mengejek sambil berkata,
“Apakah Tuhan tidak mendapatkan orang yang lebih baik daripada kamu? Kalau engkau seorang nabi, pastilah engkau terlalu mulia untuk menjadi teman bicaraku. Kalau bukan, maka engkau terlalu rendah kulayani.”

Rasulullah SAW meminta tiga pembesar Tha’if yaitu Mas’ud, Abdu Yalail, dan Habib, tidak mengumumkan kepada masyarakat penolakan mereka terhadap beliau. Akan tetapi, ketiga pembesar itu tidak mengabulkan permintaan Rasulullah SAW. Mereka malah menghasut agar para pemuda mengolok-olok Rasulullah SAW. Mereka keluar dan berteriak kepada orang banyak,
“Wahai penduduk Tha’if! Lihat orang ini! Ia mencoba mengganti para berhala kita dengan satu Tuhan baru yang tidak terlihat!”

Para pemuda mulai datang bergerombol dengan wajah memerah karena murka.

“Orang ini rupanya berniat menipu dan membodohi kalian! Apa yang akan kalian perbuat?”

“Usir dia!”

“Jangan cuma diusir, lempar dia dengan batu agar jera dan tidak berani membawa kegilaannya kemari!”

Kemudian, mulailah para pemuda melempari Rasulullah SAW dengan batu. Melihat hal itu, orang-orang kaya tidak mau ketinggalan. Mereka menyuruh budak-budaknya,
“Hei, tunggu apalagi? Ambil batu dan lempari dia! Sekaranglah saatnya kalian bersenang-senang!”

Rasulullah SAW dan Zaid berlari di sepanjang jalan ke luar Kota Tha’if. Mereka diikuti hujan batu disertai gemuruh caci maki dan cemooh gerombolan pemuda dan budak. Batu-batu terbang berbunyi debag-debug menghantam seluruh tubuh Rasulullah SAW meski sudah dilindungi Zaid. Darah suci Rasulullah SAW berceceran di sepanjang jalan.

Doa Rasululllah SAW

Setelah jauh keluar dari kota, gerombolan orang yang mengejar Rasulullah SAW pun membubarkan diri dengan senyum puas dan mengejek. Saat itu Rasulullah SAW bertemu dengan seorang istri pembesar Tha’if dari Bani Jumah yang sedang lewat. Perempuan itu memandang Rasulullah SAW dengan rasa kasihan bercampur heran.

“Lihatlah, apa yang ditimpakan kepada kami oleh rakyat suamimu,” sabda Rasulullah SAW.

Mendengar orang Tha’iflah yang menganiaya beliau, perempuan itu berlalu dengan perasaan takut jika diketahui orang bahwa ia menunjukkan belas kasihan kepada Rasulullah SAW.

Untuk melepas lelah dan membasuh luka, Rasulullah SAW dan Zaid berlindung di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Syaibah. Keduanya anak Rabi’ah, seorang pembesar Quraisy. Saat itu, keluarga Rabi’ah memerhatikan Rasulullah SAW dari jauh, tetapi mereka tidak berbuat apa pun.

Setelah napasnya kembali normal, Rasulullah SAW mengangkat kepala dan menengadah ke langit. Beliau memanjatkan doa yang amat mengharukan.

“Allahuma ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku, serta kehinaanku di hadapan manusia.”

“Oh Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, Engkaulah Pelindungku.”

“Kepada siapa hendak Engkau serahkan aku? Kepada orang jauh yang berwajah muram, kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku?”

“Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, karena sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku.”

“Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dunia, dan akhirat.”

“Janganlah kemurkaan-Mu menimpa aku.”

“Kepada-Mu lah aku menghamba sampai Engkau puas sesuai kehendak-Mu. Tiada yang lebih kuat dan kuasa dari pada-Mu.”
Daftar seri | Sebelumnya | Sesudahnya